Menghadapi masalah ? Siapa takut ?

Setiap pemimpin sudah pasti sangat menginginkan untuk mendapatkan kinerja team yang tinggi dan mendapatkan performa terbaik dari semua orang yang dipimpinnya. Tetapi, tidak jarang yang dihadapi adalah kondisi yang sebaliknya, anggota team yang mengecewakan ditambahkan beberapa permasalahan kinerja yang mau tak mau menguras energi dan pikiran kita untuk mencari ide/alat guna memecahkan permasalahan tersebut.
 
Berurusan dengan masalah kinerja seperti di atas memang menjadi salah satu bagian paling menantang dan menjengkelkan dari pekerjaan seorang pemimpin. Namun, terkadang yang justru menjadi musuh terburuk adalah kita sendiri dengan membiarkan masalah kinerja tersebut berlarut-larut tanpa ada tindakan perbaikan.
Karena, hal itu memungkinkan masalah tersebut untuk bercokol dan mencemari pekerjaan baik yang dilakukan orang lain.
 

Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menangani masalah-masalah di atas ?

 
  1. Jangan pernah memberi contoh kinerja yang buruk, karena kita akan kehilangan kredibilitas sebagai seorang pemimpin.  
  2. Beberapa hal yang perlu diingat dan tertanam dalam diri kita adalah, bahwa :    
    • Sebagian besar orang akan bekerja dengan baik selama mereka tahu apa yang harus dilakukan, mengapa mereka harus melakukannya, dan bagaimana melakukannya.
    • Sebagian besar orang akan membutuhkan sentuhan lembut sedikit lebih banyak untuk mengembalikan mereka kembali ke jalur yang diharapkan (misalnya : percakapan tentang bagaimana mereka gagal memenuhi harapan dan bagaimana kita dapat membantu untuk mencapainya) .
    • Jika sentuhan tersebut tidak bekerja, maka perlu dilakukan pendekatan yang lebih kuat dengan memberikan pernyataan eksplisit tentang konsekuensi negatif yang mungkin akan diterima.
    • Jika pendekatan yang lebih kuat juga belum mampu merubah kinerja menjadi lebih positif, maka perlu dilakukan shock therapy untuk pembelajaran.
    • Seberat apapun masalah yang dihadapi, yang perlu dilakukan adalah pendekatan dengan cara berdialog yang konstruktif positif. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kinerja individu hingga tingkat yang dapat diterima dan bukan untuk menghukum dia.
  3. Meningkatkan kompetensi dan ketrampilan anggota team untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia yang profesional.
  4. Tetap memastikan bahwa setiap konsekuensi negatif yang kita lakukan adalah sejalan dengan filosofi dan kebijakan team (perusahaan).
Categories: Uncategorized | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.